Pabrik Gong Pancasan Bogor

wisatabogor.id – Pabrik gong di kota Bogor (Jawa Barat) tersebut letaknya di Jalan Pancasan No. 17, tidak jauh dari kawasan Empang atau berjarak sekitar 2 kilometer dari Taman Raya Bogor Botanical Garden dan Museum Zoologi Bogor.

Pabrik Gong Pancasan Bogor ini merupakan alternatif tujuan baru bagi turis yang berkunjung ke kota Bogor. Setiap harinya pabrik gong ini antara lain selalu didatangi turis asing (berasal dari berbagai Negara seperti Australia, Amerika, Asia Timur, atau Eropa) dengan tujuan beragam. Jumlahnya mulai dua orang hingga enam orang atau atau sekitar 200 turis asing per bulannya. Hari Sabtu dan Minggu biasanya lebih banyak, dengan rombongan sekitar enam orangan. Pemerintah Kota Bogor, sempat merencanakan pabrik gong dijadikan sebagai wahana wisata dengan memungut retribusi bagi turis asing yang berkunjung, namun untuk hal ini pemilik pabrik merasa keberatan. Para turis asing tersebut sebagian hanya melihat dari dekat cara pembuatan gamelan, sebagian lain membeli sebagai koleksi dan kenang-kenangan untuk dibawa pulang ke negeri asal.

Kelestarian usaha dan budaya Pembuatan gong untuk gamelan ini tidak cukup berdasarkan keahlian semata tetapi juga membutuhkan kekuatan dedikasi dan cinta pada seni dan budaya bangsa. Jumlahnya saat ini hanya tinggal dua di Pulau Jawa (1 Jawa Barat dan 1 di Jawa Tengah). Pabrik Gong di Pancasan Bogor yang telah berdiri ini nyatanya masih tetap eksis dan tetap menggema sejak 2,5 abad yang lalu, serta tidak hilang digerus waktu walau menghadapi badai kapitalisme, krisis ekonomi, dan lunturnya nilai nasionalisme.

Selama masih ada yang menggunakan alat musik tradisional berupa gamelan dan adanya penilaian budaya, tentu masih dibutuhkan keberadaan pengrajin gong. Regenerasi Pengeloaan pabrik gong ini, termasuk lokasinya, sudah memasuki keturunan generasi ketujuh, secara turun temurun dari ayah ke anak dan tidak pernah berpindah jalur keturunan. Pemilik kerajinan Pabrik Gong Pancasan Bogor ini sekarang adalah Sukarna bin Jufri (85), seorang seniman Sunda yang merupakan keturunan keenam, menggantikan usaha ayahnya, dan saat ini sudah sudah lebih 40 tahun mengelola pabriknya. Atas kesadarannya, saat ini dia telah mulai menurunkan pekerjaannya kepada anak–anaknya. Tongkat estafet pabrik belum saatnya diserahkan kepada orang lain, karena anak ketiganya, Krisna Hidayat (31), telah menetapkan hati untuk meneruskannya, dia berjanji akan mengembangkan usaha pembuatan gong warisan leluhurnya.

Para pekerja kebanyakan masih terkait turunan kekerabatan dan memiliki hubungan darah dengan keluarga pemilik pabrik. Dulu bapaknya sekarang anaknya atau keponakan, bahkan sampai ada cucunya. Bagi pemula biasa diberi tugas yang ringan sambil belajar, seperti cara memegang palu yang tidak asal pukul. Sistem kerja di pabrik ini memegang prinsip kekeluargaan, dimulai kerja sekitar jam 7 sampai jam 4 sore. Mengingat pekerjaan berdekatan dengan api, maka suasana kerja dibikin santai dan adem jangan sampai dibikin panas juga. Tanpa pesaing Menurut penuturan Sukarna, tempat pabriknya ini dulu merupakan kawasan yang dikelilingi perkebunan coklat. Saat itu terdapat dua pabrik gong, namun satu pabrik tutup karena pemiliknya meninggal dan tidak ada yang meneruskannya. Jadilah pabrik miliknya berjalan sendiri tanpa pesaing. Dulu, di Jawa Barat ini ada 6 pabrik gong, tiga di antaranya ada di kawasan Pancasan.

Persaingan cukup ketat waktu itu, bahkan sejumlah karyawan terbaiknya sempat pindah ke pabrik lain. Namun dengan berpindahnya karyawan-karyawan tidak membuat Sukarna patah arang, apapun yang terjadi, mempertahankan pabrik adalah keharusan. Termasuk mempertahankan kualitas gong tidak boleh turun meskipun permintaan menurun, maka hasilnya dengan konsistensi mempertahankan mutu membuat pabriknya tidak pernah kehilangan pesanan. “Setahu saya, sekarang hanya ada dua pabrik gong di pulau Jawa, satu di sini (Jawa Barat) dan satunya lagi di Solo (Jawa Tengah). Itu pun memiliki karakter gong yang sangat berbeda, sehingga memiliki pangsa pasar masing-masing”, jelas Sukarna. Beradaptasi dengan teknologi Tidak adanya pesaing saat ini bukan berarti Sukarna bisa dengan mudah menghidupkan pabriknya.

BACA JUGA:  Prasasti Batu Tulis Bogor

Karena di tengah perkembangan teknologi musik yang kian pesat dan canggih, dia harus memikirkan bagaimana supaya alat musik Gamelan Degung bisa tetap bertahan dan dilirik. Karena ketika gamelan degung tidak lagi dimainkan, otomatis permintaan akan berkurang dan mengancam kelangsungan pabrik. Beruntung dia bisa membuat dua jenis gamelan degung yaitu diatonis dan pentatonic, sehingga tidak jarang gamelan degung juga dikolaborasikan dengan alat-alat musik modern. Melalui media internet maka diharapkan pabrik gong miliknya ini bisa lebih dikenal tidak hanya di tingkat lokal tapi juga internasional. “Saat ini memang banyak wisatawan asing yang datang untuk melihat proses pembuatan gong, tapi mereka tidak membeli. Itu yang menjadi target saya berikutnya,” jelas Sukarna. Sedangkan menurut Krisna, anaknya : “Walaupun pesanan tetap ada, sulit bagi pabrik ini untuk bertahan jika hanya menunggu pembeli. Kita harus menjemput bola. Karena itu saya sudah membeli domain di internet untuk membuat situs pabrik gong ini dan sekarang dalam proses penyelesaian,”. Pabrik dan produk Jalan Pancasan sendiri begitu padat dilalui kendaraan yang datang dan pergi meninggalkan kota Bogor.

Dari luar penampilan pabrik biasa saja, sama seperti rumah pada umumnya, tidak mewah dan tidak luas. Pelataran parkir pabrik gong ini hanya cukup untuk dua mobil. Dari luar hanya terdapat papan nama yang tergantung di dindingnya bertuliskan “Gong Factory” yang jelas berwarna merah di tembok kuning yang sudah hampir pudar, masyarakat Bogor lebih mengenalnya sebagai Gonghom. Pabrik berukuran 17 kali 18 meter ini telah berusia kurang lebih dua abad dan dikelola turun temurun. Pintu kayu tak bercat pun terbuka, mengizinkan suara dentuman dari dalam bergelora keluar ruang. Nampak semburan dan bercak lidah api melambung di kegelapan tanpa lampu, suhu ruangan dirasakan terasa cukup panas bagi yang tidak terbiasa.

Dalam ruangan ini terdapat dua pembakaran di dapur pengapian, masing-masing dilengkapi mesin blower untuk membuat api membara. Tempat ini terasa sangat pengab dan panas, tidak ada penerangan cukup sehingga banyak nyamuk, berlantai tanah, dengan sirkulasi udara yang tidak baik. Sekitar 20 pekerja berkeringat panas untuk membuat gong, tanpa sehelai baju pun dikenakannya karena panasnya ruangan. Pekerja di dalamnya berkumpul memegang palu besi, bergiliran menempa sebuah lingkaran besar berwarna merah memutih, barulah kemudian dikeluarkan dari liputan api membara.

Setiap hari setidaknya pabrik bisa menghasilkan 6 gong kecil buat gamelan. Kalau gong ukuran besar biasa memakan waktu 2 hari. Bahan yang digunakan juga tergantung kelas dan harganya. Perunggu lebih mahal sehingga kelasnya nomor satu, di bawahnya adalah kuningan. Terkadang pabrik juga menggunakan bahan besi untuk membuat gong, semua tergantung pemesanan. Sedangkan untuk menyelesaikan satu set gamelan siap pakai lengkap beserta dudukan gong, bonang, dan saron yang berukir maka perlu satu bulan penuh dengan tiap hari kerja. Pabrik Gong Pancasan Bogor.

Anda mungkin juga berminat